Koei Ni

Koei Ni (dialek Hokkian, yang artinya melewati tahun atau tahun baru) atau Sin Cia atau Imlek adalah festival yang paling aku sukai. Sewaktu kecil, Koei Ni berarti boleh memakai baju baru, naik kereta api ke kota Lubuk Pakam mengunjungi saudara-saudara, makan ayam goreng ketumbar buatan Sam Sam yang enak, menerima angpao dan berdesakan di toilet bersama sepupu-sepupu sambil saling mengecek jumlah uang anpao yang diterima.

Setelah dewasa dan dan merayakan sejumlah festival lainnya, mulai dari ulang tahun, natalan, valentine, halloween, cap go meh sampai ke UN Day dan Kartini, tetap saja Koei Ni menjadi festival paling favorit. Bukan saja ia adalah festival paling penting dan dirayakan oleh masyarakat Cina di belahan dunia manapun, bagiku, Koei Ni mengandung semacam alasan sentimentil, waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan melakukan ritual khusus.

Sebelum Koei Ni, rumah akan disapu bersih dari langit-langit sampai ke kolong tempat tidur. Kasa nyamuk jendela disikat bersih, gordin dicuci dan semua sarang laba-laba dipastikan tidak ada. Malam sebelum Koei Ni, yang biasanya disebut Sa Cap Meh, adalah waktunya tua ciak (pesta makan) bersama keluarga. Biasanya, Mama memasak steamboat, sate babi manis dan kimcibak yang enaknya tingkat mahadewa! Bak mandi ditaruh kembang supaya buang sial. Tepat jam 12 malam, kami mengadakan sembahyang menjemput Jai Sen Ye (dewa rezeki) jam, menyalakan dupa dan lilin, membakar kertas sembahyang, menyalakan dupa raksasa warna fuschia berukiran naga, mempersembahkan kue keranjang yang manis, nanas dan bolu besar yang mekar. Lampu-lampu di seluruh rumah tidak boleh dipadamkan, supaya Jai Sen Ye gampang menemukan jalan masuk rumah dan memberi berkah sepanjang tahun.

Hari pertama Koei Ni berarti mengunjungi rumah saudara-saudara, memberi salam dengan mengatupkan kedua tangan sembari mengucapkan ‘kiong hi’, menikmati lontong sayur dan ayam rendang buatan Ee Yee yang paling enak sedunia, membagikan angpao dan mendengar komentar tentang si anu yang belum juga menikah, anak-anak yang semakin cepat beranjak dewasa dan kita yang semakin menua. Koei Ni jadi semacam momen reuni dengan saudara-saudara yang semakin jarang bersua termakan kesibukan masing-masing.

Yang tidak boleh terlupakan, tidak boleh menyapu di hari pertama Koei Ni, karena dipercayai akan menyapu pergi rezeki. Juga tidak boleh mencuci rambut, karena akan menemu sial sepanjang tahun.

Sepanjang umur, baru tahun ini aku melewatkan Koei Ni tanpa keluarga. Iya, aku merindukan semua kehebohan menjelang tahun baru, berbelanja kue dan baju baru, memanggang sate, mengomentari makanan di atas meja, menyelipkan uang ke dalam angpao, menonton acara TV dan mengobrol sambil menunggu waktu sembahyang.

I. Miss. My. Family.

20

20 tahun lalu..

Di tempat ini, aku memandangi punggungmu yang hanya sejangkauan lengan tetapi terlihat sedemikian jauh dan tak tergapai, dan meyakini dua hal:

Satu, bahwa tidak akan pernah ada lagi lelaki yang lebih hebat darimu.

Dua, tidak akan lagi, sepanjang hidupku, aku mencintai seseorang lebih dari perasaan ini sekarang.

20 tahun, kemudian..

Di tempat yang sama, aku memandangi dirimu yang sekarang bertambah berat badan, dan tersenyum. Betapa jenaka rentang waktu 20 tahun membentuk garis-garis di muka dan hidup kita. Di antara waktu itu, berkali-kali aku jatuh cinta, setiap kali rasanya lebih hebat dan lebih dalam. Dan luka yang disebabkan oleh cinta itu, juga rasanya berkali-kali lebih sakit dan lebih dalam.

Tapi, perkara bahwa tidak pernah akan ada lelaki yang lebih hebat darimu, itu masih kuyakini, sampai saat ini.

Katamu, itu karena hidup telah berbaik hati padamu.

Kataku, kau telah memberi pelajaran pada hidup ini sedemikian rupa, hingga hidup berhenti mengujimu, dan sebaliknya, meluluskanmu dengan predikat summa cum laude.

Gratitude Challenge

Tags

Well, Gratitude Challenge ini adalah postingan di FB yang kutulis mulai tanggal 29 Oktober tahun lalu selama seminggu. Intinya adalah berhenti sejenak dan bersyukur atas berkah yang diberikan oleh hari itu. Bukankah setiap hari adalah berkah itu sendiri?

Kuputuskan untuk menjadikannya sebuah postingan di blog, di awal tahun, sebagai pengingat bahwa ada lebih dari 360 hari yang bisa aku syukuri selama setahun ini, juga sebagai penyemangat diri sendiri supaya rajin nge-blog tahun ini. Semoga.

Continue reading

Sepotong Bersin, Pagi Hari

Bersin itu seperti larik matahari pertama yang menyeruaki kaki-kaki langit, katamu. Sering tak tersembunyikan oleh awan-awan yang bergumpal melingkar-lingkar, serupa tangan kananmu yang tak sempat membekap bersin yang meloncat dari kedalaman dadamu, begitu lanjutmu. Dada yang menyamudera, tersebab darinya terdengar lagu ombak-ombak yang mirip semacam resital kupu-kupu.

Bersin di pagi hari adalah tanda tanya, kataku. Seperti rasa ingin tahu tentang kabarmu yang tak terbaca dari berita-berita di koran yang semakin ungu oleh luka yang terlampau dan rindu yang tersendat di sendu. Aku ingin memaknainya sebagai petanda, sekalipun yang paling semu. Tapi katamu, bersin di pagi hari adalah matahari pertama yang terlahir dari warna-warna kelabu. Ah, tak bisakah sekali ini saja berhenti memuisikan pagi dan baiklah kita berpura-pura saja bersin adalah isyarat untuk vitamin C, supaya jauh dari flu?

Tapi, tunggu.

Bersin bisa berarti angka tujuh. Waktu yang tergantung-gantung antara jeda sapa pagiku dan mu. Sebuah pelukan virtual dari dua avatar yang mengirimkan ruahan emoticon-emoticon. Tapi bukan bersin. Percayalah. Satu, dua, tiga sampai dengan tujuh. Bersin di pagi ini, kumantrai! Jadilah kalian kanak-kanak rindu yang di matanya berderet paragraf-paragraf yang membukukan hikayat panglima merahdan samudera biru..

Seperti sepotong pagi yang merona semangat dan biru puisi dalam bersin.